|
SPOILER ALERT..... Entah kenapa minggu-minggu terakhir ini saya kangen melihat Julie Delpy di Before Sunset. Film yang seharusnya membosankan ini, ternyata masih menarik juga untuk saya lihat ketiga kalinya.
Film ini mengambil setting tahun 2003 di Paris, bercerita tentang seorang Jesse (Ethan Hawke) dan Celine (Julie Delpy), yang dalam film sebelumnya (Before Sunrise) bertemu di Wina pada musim panas tahun 1994 dan mengalami peristiwa cinta satu malam. Before Sunrise ditutup oleh janji mereka berdua untuk bertemu lagi di Vienna.
Before Sunset ini adalah jawaban dari film sebelumnya. Dibuka dengan suasana kota Paris dan suara Julie Delpy dalam lagu latar An Ocean Apart, seakan-akan ingin menegaskan bahwa film ini adalah sebuah film dengan tempo yang lambat.
Diceritakan, Jesse sedang melakukan tur untuk promosi bukunya di Paris , This Time, yang ceritanya berdasarkan pengalaman satu malamnya dengan Celine di Vienna sembilan tahun silam. Ternyata, Celine yang kebetulan tinggal di Paris datang ketika Jesse mengadakan promosi di sebuah toko buku yang merupakan toko buku favorit Celine. Jadilah Jesse dan Celine bertemu kembali setelah sembilan tahun berpisah. Jesse, yang memiliki waktu delapan jam sebelum terbang pulang ke Amerika (naik pesawat tentu saja, bukan terbang kaya Superman), mengajak Celine untuk berjalan-jalan dan tentu saja ngobrol-ngobrol, yang menjadi porsi terbesar di film ini.
Ternyata, Jesse kini telah memiliki seorang istri dan seorang anak sedangkan Celine sendiri sedang memiliki hubungan dekat dengan seorang fotografer berita. Isi cerita dari film ini adalah bagaimana hidup mereka telah lewat selama sembilan tahun namun mereka sama sekali tidak bisa melepaskan kenangan di Wina.
Film ini menarik, karena akting dari Ethan Hawke dan Julie Delpy mengalir begitu alami dari awal sampai akhir. Diawal cerita, ketika Jesse dan Celine bertemu, terasa sekali kerinduan diantara mereka berdua. Bagaimana awalnya tingkah mereka berdua yang terkesan masih agak-agak salah tingkah lalu mulai terlihat mencair ketika mereka ngobrol-ngobrol di kafe dan menjadi sangat emosional pada scene diatas perahu dan didalam mobil.
Saya sendiri paling suka dengan scene di dalam apartemen Celine. Ketika Celine menyanyikan lagu A Waltz for A Night, Jesse hanya melihat, seakan-akan berkata bahwa Celine adalah soulmatenya.
Seperti film sebelumnya yang diakhiri dengan pertanyaan akankah 6 bulan kemudian mereka akan benar-benar bertemu, Film kali ini pun diakhiri dengan pertanyaan apakah akhirnya Jesse ketinggalan pesawat?, apakah Jesse akhirnya mengorbankan keluarganya untuk kembali bersama Celine?
Dialog panjang satu film antara Jesse dan Celine itu pun ditutup dengan dialog menggantung:
Celine : "Baby, you gonna miss that plane"
Jesse : " I know"


gambar diambil dari imdb.com dengan semena-mena, untuk digunakan seperlunya


|
Setelah jalan-jalan nyari blog anak sekolahan untuk referensi Pelatihan Blog di SMU Semesta ntar siang, tidak sengaja ketemu sama blog Kelinci Putih, seorang siswa SMP di Bandung (CMIIW). Sepertinya blog ini ngetop juga, karena banyak yang komen disana (jadi ngiri ..). Awalnya sih ngeklik karena inget lagu Kelinci Putih waktu jaman SD dulu.
Ceritanya lucu-lucu, tapi yang lebih lucu lagi ternyata ada yang anti sama blog ini. Buset ! Anti nya sampai niat gitu ya?
Pengen cerita panjang lebar tapi udah ngantuk nih.
Udah ah, mau bikin kopi dulu.




|
" I guess when you're young, you just believe there'll be many people with whom you'll connect with. Later in life, you realize it only happens a few times..."

Tags:
|
Kebetulan saya dipilih, secara mendadak, menjadi salah satu dari tim juri yang mewakili Loenpia.net dalam lomba blog yang diadakan telkom divre IV. Bukan karena kompetensi, tetapi lebih karena saya adalah anggota Loenpia aktif yang tidak ikut mendaftarkan diri untuk mengikuti lomba. Rupanya iming-iming jalan-jalan ke Bali cukup membuat para anggota Loenpia menggila sehingga rame-rame mendaftarkan diri. Saya sendiri tidak ikut mendaftar karena kurang pe-de. Lagipula menghasilkan 5 tulisan dengan tema "Membuka Maaf, Melebur Dosa" bukan perkara mudah bagi saya.
Maka, dua hari yang lalu ikutlah saya dalam proses penilaian bersama tim dari Loenpia. Kami mendapatkan jatah menilai 65 blog dari 195 blog yang terdaftar. Untungnya tidak semua 65 blog yang terdaftar memiliki URL yang valid dan untung saja tidak semua blog dengan URL yang valid memiliki 5 buah artikel seperti yang disyaratkan oleh panitia lomba, sehingga pekerjaan kami semakin ringan saja.
Ternyata asyik juga menilai blog orang walaupun agak-agak susah. "Wah yang ini warnanya terlalu mencolok!!", "Wah, yang ini kurang orisinil", " Waah.. ini sih basi!!". Itulah sebagian pikiran yang melintas didalam pikiran saya saat menilai blog-blog para finalis. Selayaknya pakar saja, blog para finalis pun saya nilai dalam angka-angka. Enak betul, kan?
Agak aneh juga, menilai-nilai blog orang lain padahal sebagian besar tulisan saya di blog ini mirip-mirip dengan tulisan di blog-blog yang saya beri nilai tidak istimewa. Jadi, ternyata eh ternyata tidak semua orang yang menilai kita memiliki kemampuan diatas kita. Walaupun orang tersebut berhak menilai kita (guru, dosen, suhu, juri, wasit, dlsb). Bahkan sebagai orang yang dinilai, kita memiliki potensi besar untuk menjadi lebih baik. Karena dengan dinilai, kita bisa mengetahui dimana titik lemah kita, yang berarti memberi kita kesempatan untuk lebih mengembangkan kemampuan.
Nah, untuk peserta yang belum beruntung masuk dalam 30 besar, tidak terpilihnya Anda bukan berarti karena blog Anda jelek tapi lebih karena, menurut juri, ada yang blog lebih bagus dari blog Anda. Jadi jangan berkecil hati. Ayo menulis lagi, ayo ngeblog lagi, jangan bosan!

|
Kemarin, 14 November 2006, saya mengikuti kegiatan bersama-sama Loenpia. Kegiatan ini cukup unik, menurut saya, yaitu menanam Mangrove di Pulau Tirang di daerah Tapak Tugurejo Semarang. Kegiatan ini sendiri adalah program dari BAPEDAL Semarang. Awalnya Adam dan Budi mengajak, saya menolak untuk ikut karena saya sama sekali tidak tertarik. "Nanem Mangrove? ngapain juga nanem-nanem mangrove.. mending di rumah nonton infotainment" kira-kira begitulah yang terlintas di pikiran saya. Tapi ya akhirnya saya pun ikut juga .
Sekitar jam tujuh kurang sepuluh menit, saya, Adam dan Budi berangkat dari rumah saya menuju Taman Lele. Sampai Taman Lele (sekitar jam tujuh) ternyata baru kami bertiga yang datang, janjiannya sih kumpul di Taman Lele jam 7.15. Ada hal menarik waktu kami bertiga menunggu yang lain datang. Seorang bapak-bapak menghampiri kami lalu menanyakan maksud kedatangan kami. Yang menarik bapak itu mengatakan "Cari sarapan ya mas? Kalau cari sarapan , satu kilometer dari sini aja mas".
Awalnya saya nggak ngeh dengan maksud pertanyaan dan pernyataan bapak ini. Tapi kemudian si Budi memberi sedikit pencerahan bahwa ternyata sekitar 1 km dari tempat itu adalah kawasan prostitusi Gambilangu. Jadi maksud dari bapak itu bukan sarapan tapi "sarapan". Duh, kurang ajar bener tuh bapak!!
Eniwei, beberapa menit kemudian teman-teman yang lain mulai berdatangan. Yang heboh tentu saja kedatangan mas Adi yang membawa dua teman cewek Belanda, Ellen dan Jessica. Setelah semua berkumpul, kami pun bersama-sama menuju ke pulau Tirang. Perjalanan ke Pulau Tirang ini ditempuh dengan menggunakan perahu bermotor.
Ketika menyusuri sungai (?), menuju Pulau Tirang, kesan yang didapat adalah: KOTOR!. Ya, dimana-mana terlihat plastik-plastik kemasan makanan, sandal-sandal tak bertuan, dan bahkan ada beberapa underwear yang menggantung gak jelas. Begitu sampai di Pulau Tirang kesan itu pula yang tertangkap, plastik, dus-dus dan stirofoam bekas ada dimana-mana. Bahkan Jessica sempat bertanya, yang kira-kira terjemahan bebasnya begini "Kok, perasaan dimana-mana kotor banget sih? Kerjaan siapa nih?". Saya pun tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Malu juga sih. Menurut mas Adi sih, sampah-sampah itu adalah sampah dari Semarang. Ya, karena pulau Tirang ini akan tenggelam jika malam tiba (menurut Budi), jadi sampah itu adalah sampah kiriman yang nyasar di Pulau Tirang.

Turun dari perahu (saya yang berbaju oranye)
(gambar diambil dari loenpia.net, dengan semena-mena untuk digunakan seperlunya)

Akhirnya acara menanam mangrove pun dimulai, sebelumnya kami diberi pengetahuan sedikit mengenai mangrove dan cara menanamnya. Ternyata jenis mangrove yang akan kami tanam hari itu adalah Rhizopora Mucronata yang sengaja dipilih karena karakteristiknya yang tahan terhadap cuaca panas (oh ya, hari itu memang sangat panas). Lalu kami diberi tahu cara penanamannya. Bibit yang kami tanam hari itu adalah bibit yang sebelumnya telah ditumbuhkan dalam sebuah polybag hingga akarnya tumbuh. Jadi, pertama-tama polybagnya harus di lepas dulu dengan hati-hati agar tidak merusak akar. Kemudian ditanam sedalam 10 - 20 sentimeter dan di beri bambu pelindung untuk melindungi bibit mangrove dari gelombang dan kepiting-kepiting yang sering memakan bibit mangrove. Untuk lebih jelasnya kira-kira seperti ini:

Cara menanam bibit Mangrove
(gambar diambil dari budiyono.net, dengan semena-mena untuk digunakan seperlunya)

Maka dimulailah acara tanam-menanamnya. Berkotor-kotor dan berbasah-basahlah kami semua. Ada yang bertugas mencangkul, ada yang bertugas menanam ada yang bertugas memindahkan bibit-bibit. Menyenangkan sekali, karena semuanya dilakukan bersama-sama. Namun dasar saya orang yang sangat jarang melakukan kegiatan fisik yang berat-berat, rasa capek dengan mudahnya menghinggapi, bagaimana tidak capek, berdiri gali lubang lalu jongkok nanem bibit lalu berdiri lagi adalah kegiatan yang tidak mudah bagi orang dengan ukuran perut dan paha berlebih seperti saya . Tapi karena malu diliat banyak orang, akhirnya dengan semangat 45 terus saja dilakukan, berdiri-buat lubang-jongkok-nanem bibit-berdiri-buat lubang-jongkok-nanem bibit. Lagipula ada rasa bangga bisa melakukan sesuatu yang berguna. Ya menanam mangrove berguna karena ketika tumbuh besar akar-akar mangrove tersebut akan mengurangi efek dari abrasi laut, mengurangi efek dari badai dan gelombang laut sehingga ketika sampai pemukiman efek dari gelombang laut tidak terlalu merusak Selain itu ekosistem mangrove juga menyediakan tempat hidup bagi kepiting-kepiting, ikan-ikan dan jenis-jenis mahluk lainnya. Belum lagi nilai ekonomis dari tanaman mangrove itu sendiri, yang bisa dimanfaatkan kayu dan buahnya (?)

Menanam Mangrove
(gambar diambil dari loenpia.net, dengan semena-mena untuk digunakan seperlunya)

Kegiatan menanam mangrove selesai pada tengah hari sekitar jam 12. Tangan dan kaki lecet-lecet, baju bersimbah lumpur, kulit terbakar, badan pegel-pegel tapi hati senang. Malamnya saya pun tidur tanpa mimpi.
Nanem Mangrove? Capee Deeeh :-D

|
"Yang namanya rahasia itu ya rahasia, jangan dikasih tau siapa-siapa. Kalo siapa-siapa dikasih tau itu namanya bukan rahasia... NGERTI??"
..
"GWOWBLOG!!"


Tags:
|
TIOBE index, November 2006
(gambar diambil dari rubyinside.com dengan semena-mena untuk digunakan seperlunya)

Wah ternyata Java masih kekeuh di posisi pertama, tapi liat ruby dong.. meloncat sampai 8 posisi lhoo.. :-D.

Artikel terkait :

|
Remember, remember, the 5th of November
Gunpowder, Treason and plot;
I know of no reason why Gunpowder Treason
Should ever be forgot.
Yang pernah nonton film V for Vendetta mungkin pernah mendengar syair ini. Syair diatas adalah bagian dari sebuah lagu dari Inggris yang dibuat untuk memperingati kejadian The Gunpowder Plot. Apa itu The Gunpowder Plot?

The GunPowder Plot

Kejadiannya berlangsung 401 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 5 November 1605 di Inggris. Ketika itu 13 orang merencanakan peledakan 36 barrels mesiu di House of Parliament (macam gedung DPR kali ya?) dengan harapan dapat membunuh Raja James I yang berkuasa ketika itu. Tapi kemudian rencana ini gagal dan akhirnya para konspirator dijatuhi hukuman mati.
Ketika itu masyarakat Katolik di Inggris mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari Kerajaan. Diangkatnya James I menggantikan Elizabeth I pada tahun 1603 menghadirkan harapan baru bagi masyarakat Katolik saat itu untuk mendapatkan perlakuan yang jauh lebih baik. Karena pada masa Elizabeth I, masyarakat Katolik di Inggris mendapatkan perlakuan yang sangat buruk. Lagipula James I adalah anak dari seorang Katolik. Namun harapan ini tidak menjadi kenyataan, walaupun pada akhir pemerintahannya yang berlangsung selama 22 tahun, hanya 25 orang Katolik yang di eksekusi dibandingkan 189 orang pada tahun 1570 - 1603.
Kemudian disusunlah sebuah plot oleh Robert Catesby untuk membunuh James I dan orang-orang terdekatnya serta seluruh anggota parlemen, pada saat pembukaan Parlemen (State Opening). Beberapa konspirator kemudian ragu dengan rencana itu. Keraguan muncul karena ada kemungkinan tokoh Katolik juga menjadi korban. Kemudian salah seorang konspirator mengirimkan surat anonim kepada Lord Monteagle, seorang tokoh Katolik, yang berisi pemberitahuan untuk tidak mengikuti acara tersebut. Tapi Lord Monteagle lalu menyerahkan surat tersebut kepada Robert Cecil, Sekretaris dari James I.
Para konspirator mengetahui keberadaan surat ini dan bahkan sempat menularkan keragu-raguan. Namun setelah Guy Fawkes, orang yang bertugas menyalakan mesiu, memeriksa kembali mesiu yang ditaruh didalam gudang penyimpanan kayu di bawah House of Lords, mereka merasa yakin untuk melanjutkan rencana peledakan karena tidak ada tanda-tanda mesiu tersebut disentuh orang lain.
Pada malam hari tanggal 4 Oktober 1605, diadakan pencarian di House of Parliament oleh pihak berwajib (halah!). Pencarian itu akhirnya menemukan Guy Fawkes, yang saat itu mengaku bernama John Johnson, dan barel mesiu. Guy Fawkes kemudian ditangkap.
Setelah disiksa beberapa hari, Guy Fawkes akhirnya memberitahukan nama-nama orang yang merencanakan aksi tersebut.
Kegagalan Gunpowder Plot itu kini diperingati di Inggris dengan menyalakan kembang api, dan membakar orang-orangan kertas, yang melambangkan Guy Fawkes. Perayaan ini dikenal sebagai Bonfire Night atau Guy Fawkes Night.

Guy Fawkes
(gambar diambil dari http://www.gunpowder-plot.org dengan semena-mena, untuk digunakan seperlunya)


V for Vendetta

Film V for Vendetta terinspirasi dari kisah The Gunpowder Plot ini.
Film ini seperti ingin menjawab pertanyaan: "Apa yang akan terjadi seandainya Guy Fawkes berhasil meledakkan House of Parliament?"
Diceritakan, pada tahun 2038 Inggris diperintah oleh sebuah rezim totaliter bernama Norsefire. Rezim ini mengekang segala bentuk ekspresi seni dan perbedaan. V (Hugo Weaving) adalah manusia hasil percobaan di camp Larkhill, semacam camp konsentrasi. Kisah film ini menceritakan pembalasan dendam V kepada pemerintah atas perlakuan yang diterimanya di kamp Larkhill.
Sebuah pesan dari film V for Vendetta adalah tentang kekuatan ide. Seseorang bisa dibunuh tetapi sebuah ide akan terus ada, bahkan setelah ratusan tahun. Bahkan demi sebuah ide orang rela membunuh dan di bunuh. Ide Nusantara yang merdeka menginspirasi para pejuang kita dahulu untuk merdeka, ide tentang Palestina yang merdeka meledakkan intifada dan jihad, ide Tanah Terjanji (Zion) membuat Zionis Israel membantai ribuan orang di Palestina. Tentu saja ide tidak hanya mengakibatkan bunuh-bunuhan. Ide juga mengantarkan kesuksesan. Ide satu rumah satu PC membesarkan Microsoft, ide untuk memegang akses ke semua informasi membesarkan Google, ide produksi massal mobil membesarkan Ford, ide tentang hybrid melambungkan Toyota, ide direct-selling melambungkan Dell .
Jadi, selamat mewujudkan ide-ide anda semua.
Tapi ingat, ide tiap orang tidaklah sama.

Sumber :

|
Give a man a fish and you feed him for a day;
teach him to use the Net and he won't bother you for weeks.



Tags:

Komentar Terbaru

Tinggalkan Pesan


Name
Email
URI
Msg

Tags

Gegambaran

Loenpia.net